Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Oktober 2017
Pengertian Liputan dan langkah-langkah sebelum meliput berita
A.
Liputan
Pengertian
Liputan
Peliputan berasal
dari kata liput, yang berarti melihat, merangkum. Jadi, apa yang dilihat,
dirangkung, lalu dibuat dalam bentuk catatan. Dalam bahasa wartawan, peliputan
dapat berarti peristiwa yang jurnalis lihat, kemudian mereka rangkum dan
tuangkan dalam bentuk tulisan menjadi suatu informasi/berita.
Pasca Produksi
Segala sesuatu yang
dilakukan di dalam ruangan setelah tahap peliputan merupakan proses
pascaproduksi berita. Pada tahapan pasca produksi ini perlu dilakukan beberapa
hal, yaitu:
a. Membuat
Naskah
Proses
pembuatan naskah berita dilakukan oleh reporter dan akan dikoreksi kembali oleh
produser/kepala penyiaran sebelum akhirnya di cetak, karena naskah ini akan
digunakan sebagai acuan untuk proses selanjutnya. Beberapa berita yang telah
sampai ditangan produser yang kemudian dipilih dimasukkan kedalam run down,
selanjutnya akan mengalamai proses editing naskah yang dilakukan pula oleh
produser. Mengingat tidak semua naskah berita yang dibuat oleh reporter maupun
kontributor yang masuk tersebut, lengkap, runtut, dan memenuhi standard
pembuatan naskah berita televisi. Prinsip utama ketika menulis naskah untuk
radio adalah bahasa yang sederhana, singkat, padat, dan jelas.
b. Dubbing
Merekam
suara baru bisa dilakukan jika naskah telah selesai di cetak. Pada bagian ini
pihak redaksi yang telah mencetak akan menyerahkan hasil naskah untuk di dubbing, guna pengisian suara untuk isi
berita. Bisa berisi suara tim liputan ataupun suara rekaman dari hasil
wawancara guna memperjalas berita.
c. Editing
Editing
merupakan proses pemeriksaan kembali baik naskah atau tulisan, video serta
audio yang akan diberitakan. Pelaku editing disebut dengan editor. Di Radio
Pemerintah Kabupaten Siak (RPK) proses editing berita mengacu pada naskah yang
ada dan dubbing yang telah terekam serta durasi.
d. Penyiaran
Berita
Siaran
berita baru dimulai jika sudah mendekati waktu yang ditentukan. Karena berita
merupakan tayangan siaran langsung, maka segala susuatunya sudah harus
dipersiapkan terlebih dahulu. Lima belas menit sebelum jam siaran semua kru
sudah harus bersiap di tempat mereka masing-masing, terutama bagi yang bertugas
saat menyiarkan berita tersebut. Ketika sudah waktunya berita tersebut
dibacakan, maka penyiar diharuskan menyiarkan berita dengan bahasa dan intonasi
yang jelas.
Defenisi dan sejarah perkemabangan radio
- RADIO
Radio adalah
teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan
radiasi (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintasi dan merambat lewat
udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena
gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).
Radio menurut
ensiklopedi indonesia yaitu: penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang
elektromagnetik bebas yang memiliki frekuensi kurang dari 300 GHz (panjang
gelombang lebih besar dari 1 mm). Sedangkan istilah Siaran Radio berasal dari
kata radio broadcast, artinya penyampaian informasi kepada khalayak berupa
siaran yang berjalan satu arah dengan memanfaatkan gelombang radio sebagai
media.
Sedangkan menurut
versi undang-undang penyiaran no 32/2002: kegiatan pemancar luasan siaran
melalui sarana pemancaran dan transmisi di darat, laut, atau diantariksa dengan
menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara untuk dapat diterima
serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengn perangkat penerima siaran, yang
dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Sejarah dan perkembangan Radio di Indonesia
Perkembangan radio secara teknologi bisa dilacak dari penemuan yang dilakukan
oleh Gugleimo Marconi pada abad 19 M. Dengan mendasarkan pada gelombang
elektromagnetik yang ditemukan oleh Heinrich Hertz, Marconi yang berlatar
belakang keluarga kaya di masaya melakukan eksperimen. Eksperimennya sukses
dengan ditandai terkirimnya sinyal melewati sisi perbukitan diluar rumah keluarganya
di Bologna, Italia (Bittner, 1986:97).
Penemuan selanjutnya yang berperan dalam
perkembangan teknologi radio ditemukan oleh J. Ambrose Fleming yang mematenkan
dua elemen tabung penerima sinyal yang disebut sebagai Fleming Valve pada tahun
1904. Penemu lain, Lee de Forest mematenkan audio, yang menjadi perangkat
standar radio sebelum ditemukannya teknologi transistor (Bittner, 1986:98).
Di Indonesia, radio telah mengudara di Indonesia
sejak masa colonial Belanda. Di Kota Solo, Raja Mangkunegara berinisiatif
mendirikan stasiun penyiaran radio pertama bernama Solosche Radio Verenigin
(SVR) pada tahun 1933. Radio SRV menyiarkan program acaranya dalam Bahasa Jawa,
sebuah terobosan mengingat di masa kolonialisme Bahasa Belanda lebih dianggap
terhormat oleh kaum kolonialis. Stasiun radio ini dianggap sebagai titik awal
penyiaran, sehingga ditetapkan sebagai Hari Penyiaran Nasional.
Selain di Solo, stasiun penyiaran radio juga berdiri
di berbagai kota-kota lain, seperti Meyes Omroep Voor Allen (MOVAO) di Medan,
Mataram Voor Radio Vereniging yang berdiri di Yogyakarta, Erst Madiun Radio
Oemroep di Madiun dan Chinnese en Inhemmse Vereniging Oost Java (CIVRO) yang
berdiri di Surabaya. Radio-radio tersebut gayanya masih partikelir atau swasta
yang kelangsungan hidupnya tergantung pada iuran anggota perkumpulan maupun
dari NIROM sebagai kompensasi me-relay acara seni budaya tradisional.
Radio-radio tersebut gayanya masih partikeler atau swasta yang kelangsungan
hidupnya tergantung pada iuran anggota perkumpulan maupun dari NIROM sebagai
kompensasi me-relay acara seni budaya tradisional. Radio-radio yang programnya
berorentasi pada seni budaya daerah ini kemudian pada tahun 1937 mengorganisasi
diri dalam suatu wadah yang disebut sebagai Perikatan Perkumpulan Radio
Ketimuran atau PPRK. Selain-selain radio ini sebenarnya terdapat pula sejumlah
lembaga penyiaran yang menggabungkan diri dalam badan usaha Netherlansche-Indische
Radio Omroep Maataschaappij atau yang lebih popular dengan sebutan NIROM. NIROM
sendiri sebenarnya adalah bada usaha yang didirikan oleh orang-orang yang
kebanyakan dari latar belakang Belanda. Pada tahun 1934 NIROM mendapat lisensi
ijin untuk bersiaran atas nama pemerintah Hindia Belanda (Wild dan Carey dalam
Darmanto, 2004:4).
NIROM berkedudukan di Jakarta sebagai stasiun
pusatnya. Di daerah NIROM memiliki cabang di Surabaya dan Semarang. Selain
memiliki stasiun daerah di kedua daerah tersebut, NIROM juga memiliki stasiun relay di solo, Yogyakarta, cepu, malang,
sukabumi, Cirebon, bogor, padang. Dalam kegiatan operasional siaranya, NIROM
mendapat subsidi dari pemerintah Belanda. Fasilitas yang diberikan pemerintah
colonial Belanda berupa pajak radio dan piringan hitam yang berisi music-musik
lagu tradisional, NIROM mendapatkannya dari radio yang tergabung dalam PPRK
melalui relay. NIROM membayar hak
siar pada radio-radio yang tergantung dalam PPRK atau yang dalam istilah waktu
itu adalah dengan memberikan subsidi (kempen dakam Darmanto, 2013:4).
Selain radio yang tergabung dalam NIROM dan PPRK
juga terdapat juga radio penyiaran jenis lain yaitu VERAL, Van Wingan,
Goldberg, Lyusks dan Lindeteves. Veral adalah radio penyiaran yang diusahakan
oleh orang asing yang berada di Yogyakarta, sedangkan stasiun penyiaran radio
khusus iklan yang diselenggarakan oleh para pedagang dan siaranya diibatasi
siang hari selama 1 jam berisikan informasi mengenai jenis-jenis produk yang
dijual oleh para pengusaha (Darmanto, 2013:4).
Siaran radio berbahasa belanda berhenti ketika bal
tentara Jepang menguasai Indomesia. Kebijakan represif yang diterapkan
pemerintah militer Jepang terhadap kolonialisme belanda menyebabkan kultur
peninggalan Belanda harus ditinggalkan, termasuk siaran radio berbahasa
belanda. Awalnya rakyat Indonesia menerima kedatangan balatentara jepang dengan
sukacita. Kampanye propaganda jepang yang menyatakan akan menjadi pembebas Asia
melahirkan harapan akan kemerdekaan. Pekik”merdeka” pun mulai banyak
berkumandang di masa Belanda dibelengu, mendapatkan kemerdekaanya di awal
kedatangan Jepang. Tapi bulan madu ini tidak berlangsung lama. Pada tanggal 20
Maret 1942, pemerintahan balatentara jepang mengeluarkan suatu undang-undang
yang membatasi kebebasan rakyat. Tentara jepang membentuk badan sensor yang
bertugas melakukan pemeriksaan terhadap film, klise maupun semua barang
cetakan. Sensor ini dilakukan dimarkas badan sensor di Riswijk 18 jakarta
setiap selasa dan jumat jam 09.00 sampai dengan 12.00. ketentuan mengenai wajib
sensor ini kembali ditegaskan melalui maklumat yang dikeluarkan oleh dinas pers
balatentara jepang (Hodohan) tanggal 13 Mei 1942 (latief dalan Darmanto,
2013:18).
Di ranah siaran radio, tentara pendukung jepang
mengambil sikap sangat keras dengan membubarkan semua organisasi penyiaran yang
telah ada sebelumnya, baik PPRK maupun NIROM dan radio siaran lainya. Jepang
membentuk suatu jabatan khusus yang mengurusi soal radio bernama Hoso Kanri Kyoku
yang berpusat di Jakarta.
Pada masa
kemerdekaan, radio berperan besar dalam mengumandangkan berita proklamasi.
Melalui siaran radio Hoso Kanri yang sebernarnya masin dikuasi oleh jepang,
para penyiar yang berada di jalan merdeka barat berhasil menyelundupkan naskah
proklamasi dan membacakan pada jam 19.00 tanggal 17-Agustus-1945. Namun, siaran
tersebut hanya terbatas di sekitar jakarta saja. Kejadian ini kemudian
melahirkan inisiatif dari pihak teknik (operator) bernama Suardi dan Ismaun,
untuk menyalurkan pembacaan teks proklamasi lewat siaran luar negeri yang
terletak dibandung, dua penyiar yang berhasil membacakan naskah keluar negeri
adalah Yusuf Ronodipuro dan Bactiar Lubis (Efenddy dalam Darmanto, 2013:23).
Pemerintah japang yang mengetahui ada siaran di luar kendalali mereka menjadi
marah. Semua stasiun radio Hoso Kyoku ditutup, namun para pegawai Hoso Kyoku
yang pro akan kemerdekaan tidak kehabisan akal. Mereka berpindah-pindah siaran dengan
call stasiun Radio Indonesia Merdeka. Mereka inilah yang berjasa besar
melahirkan Radio Republik Indonesia (RRI). Dengan kemampuannya di bidang
penyiaran radio, para pegawai Hoso Kyoku yang pro kemerdekaan berjasa besar
dalam usaha naskah proklamasi tersiarkan ke berbagai penjuru nusantara.
Siaran radio sampai
dengan dekade 1980-an masih merupakan primadona khalayak. Pilihan media massa
sampai dengan dekade tersebut selain radio, hanya media cetak dan media
televisi serta film. Televisi juga terbatas pada siaran TVRI yang dimiliki oleh
pemerintah. Harga pesawat telefisi yang masih mahal pada masa tersebut juga
menyebabkan penetrasi televisi tidak begitu kuat pada khalayak. Radio, dengan
harganya yang terjangkau, menjadi pilihan khalayak.
Pada mas Orde Baru,
semua stasiun penyiaran radio wajib me-realy
siaran berita RRI yang pada masa tersebut menjadi stasiun radio milik
pemerintah. Radio swasta tidak diperkenankan untuk menyiarkan siaran berita.
Format siaran radio swasta pad masa tersebut umumnya adalah musik, komedi dan
sandiwara radio. Walaupun demikian, era tersebut, terutama pada era 1950-an
sampai dengan 1970-an, RRI menjadi primadona bagi khalayak di Indonesia
(Khalasi,2007:33). Karena pada masa itu televisi belum menyita perhatian
khalayak karena siaran TVRI yang masih terbatas, dan radio swasta juga belum
mampu untuk menyaingi keberadaan RRI.
Melihat dari
sejarah dan perkembangan Radio di Indonesia hingga saat ini, Radio RRI masih
bertahan dan selalu mengudara untuk memberikan informasi kepada khlayak. Dan
seiring perkambangan jaman (Interner) kini telah hadir radio yang dapat kita
dengarkan dan kita lihat secara streaming.
Ini merupakan sebuah inovasi yang sangat tepat agat radio tetap mendapatkan
kepercayaan dari masyarakat dalam menyajikan sebuah informasi.
Rabu, 11 Oktober 2017
Defenisi Jurnalistik
A. Pengertian Jurnalistik
Jurnalistik atau journalisme
berasal dari perkataan journal, artinya
catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bias jadi
surat kabar. Journal berasal dari
perkataan latin diurnalis, artinya
harian atau tiap hari. Dari perkataan itulah lahir kata jurnalis, yaitu orang
yang melakukan pekerjaan jurnalistik.
Untuk memperjelas pengertian kita mengenai
jurnalistik, kiranya perlu adanya batasan tertentu (defenisi) yang menunjukkan
ciri-ciri, dasar-dasar, dan gejala-gejala utama yang dipelajarinya. Agar semua
orang yang berkepentingan terhindar dari kekacauan atau kebingungan yang
menimbulkan salah tafsir atau pengertian, dibutuhkan suatu defenisi tentang
jurnalistik yang tepat. Defenisi yang tepat dapat dijadikan titik tolak atau
pedoman berfikir dalam memahami aspek yang terkait dengan apa yang disebut
jurnalistik itu.
Di dalam defenisi itu tidak boleh mengulang kata
atau nama yang harus diterangkan (didefenisikan);
1. Pertanyaan
defenisinya tidak boleh negative, melainkan harus positif, (bukan pertanyaan
yang menyangkal);
2. Di
dalam defenisinya tidak boleh ada pertanyaan yang bertentangan;
3. Defenisi
harus menerangkan keseluruhan aspek yang terkait, tidak hanya bagaiannya saja
yang diceritakan;
4. Jangan
menggunakan ibarat;
5. Sifat-sifat
tidak menentukan jangan dimasukkan kedalam defenisi itu;
6. Sifat-sifat
yang menentukan harus dirumuskan sependek (sesingkat) mungkin;
7. Defenisi
itu harus bias dibalikkan dengan tidak berubah artinya (defenisi sit convertibus).
Adapun
wujud defenisi itu sendiri memiliki ciri-ciri:
a. Berbentuk
pertanyaan berupa kalimat terdiri dari anak kalimat, yaitu yang diterangkan dan
yang menerangkan;
b. Diantara
kedua kalimat tersebut digunakan kata kopula
(adalah atau ialah)
c. Urainya
bersifat teoritis dan abstrak.
Apabila kita rujuk
apa uang telah di maksud defenisi dan wujudnya tadi, pengertian jurnalistik
yang telah dipaparkan dimuka dapat dijadikan suatu defenisi jurnalistik dan bentuk pertanyaan sebagai berikut;
Jurnalistik, adakah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengelolah,
menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari
secara indah, dalam rangka memenuhi segala segala kebutuhan hati nurani
khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan prilaku
khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya. Sementara di dalam kamus
besar Bahasa Indonesia disebutkan, jurnalistik merupakan kegiatan untuk
menyiapkan, mengedit dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau berkala
lainya.
Defenisi Ilmu Komunikasi
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah suatu topik yang amat sering
diperbincangkan, bukan hanya dikalangan ilmuan komunikasi, melainkan juga
dikalangan orang awam, sehingga kata komunikasi itu sendiri memiliki terlalu
banyak arti yang berlalinan. Memahami komunikasi istilah komunikasi merupakan
langkah awal untuk memperbaiki pemahaman atas fenomena yang rumit ini. William
I. Goreden (dalam Mulyana, 2001:41) menjelaskan bahwa kata komunikasi yang
dalam bahasa inggris communication,
berasal dari kata latin communis yang
berarti sama. Istilah pertama communis adalah
istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang
merupakan akar dari kata-kata lainnya yang benar maupun salah.
Sementara menurut Everett M. Rogers: komunikasi
adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau
lebih, dengan maksud utnuk mengubah tingkah laku mereka. Defenisi komunikasi
lainya menurut Raymond S. Ross: Komunikasi adalah suatu proses menyotir,
memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu
pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikiranya yang serupa dengan
yang dimaksudkan komunikator (dalam Mulyana, 2002:62).
Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa
komunikasi adalah proses pertukaran simbol atau lambing-lambang yang kemudian
disebut pesan dari pengirim (komunikator) kepada penerima (komunikan) sehingga
komunikator membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikiranya
yang serupa dengan dimaksudksan komunikator.
Komunikasi adalah wahana utama dan kegiatan dalam
kehidupan manusia sehari-hari. Manusia berkomunikasi dengan sesamasanya karena
mereka sering membutuhkan dan juga karena manusia hanya bias berkembang melalui
komunikasi. Masyarakat tidak dapat berkembang tanpa informasi dan komunikasi.
Keperluan akan komunikasi dan informasi merupakan bukti adanya desakan dalam
tubuh manusia untuk menuju kesatuan kehidupan yang diperkaya dengan kerja sama
antar manusia.
Beberapa defenisi komunikiasi diatas memiliki
pengungkapan beragam, namun dengan kesamaan telaah dan fenomena yang terjadi.
Pengertian-pengertian diatas mengacu pada kebenaran bahwa komunikasi mengandung
unsur-unsur sebagai berikut; komunikator, komunikan, pesan, media/saluran,
umpan balik, efek, dampak, dan adanya tujuan serta terbentuknya pengertian
bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
MOD vaping harga 500-700 Ribuan yang bagus dan berkualitas
MOD Vape kisaran harga 500-700 yang bagus dan berkualitas Sebelumnya saya juga sudah membahas tentang MOD yang murah dan berkulitas untu...
-
A. Liputan Pengertian Liputan Peliputan berasal dari kata liput, yang berarti melihat, merangkum. Jadi, apa yang dilihat, dirangkun...
-
MOD Vape kisaran harga 500-700 yang bagus dan berkualitas Sebelumnya saya juga sudah membahas tentang MOD yang murah dan berkulitas untu...
-
3 MOD VAPE YANG MURAH DAN BERKULITAS UNTUK PEMULA Saat artikel ini dibuat, banyak orang yang berpaling haluan dari rokok konvensional k...